TEBO, SIGNALBERITA.COM — Elpiji subsidi 3 kilogram semakin sulit di peroleh di Kecamatan Tebo Tengah, Kabupaten Tebo, Jambi. Kelangkaan terjadi di tingkat pangkalan hingga pengecer, di sertai lonjakan harga yang jauh melampaui ketentuan pemerintah.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kabupaten Tebo, Mardiansyah, mengatakan pihaknya telah menindaklanjuti persoalan tersebut. Ia bersama tim bidang perdagangan turun langsung memeriksa pangkalan dan pengecer.
“Hasil pemantauan di lapangan menunjukkan harga di tingkat pengecer jauh dari ketentuan,” kata Mardiansyah, Jumat, 23 Januari 2026.
Disprindagkop kemudian memanggil lima agen LPG di Kabupaten Tebo. Pemerintah daerah meminta agen memperketat pengawasan terhadap pangkalan di bawah kewenangan mereka agar penjualan gas subsidi tepat sasaran dan sesuai harga.
Mardiansyah menegaskan pemerintah telah menetapkan harga eceran tertinggi (HET) sejak 18 Desember 2025. Untuk wilayah dalam kota, HET di tetapkan Rp19 ribu per tabung. Adapun wilayah yang jauh dari pusat kota dipatok Rp20 ribu per tabung.
“Jika ada pangkalan menjual di atas HET, kami akan menindak. Agen wajib melakukan pengawasan dan monitoring,” ujarnya.
Di sisi lain, pedagang mengeluhkan kelangkaan gas melon yang telah berlangsung beberapa pekan. Riza, salah satu pedagang, mengaku harus membeli LPG 3 kilogram di warung dengan harga mencapai Rp35 ribu per tabung karena pangkalan sering kosong.
“Kami terpaksa beli mahal demi kebutuhan usaha. Kami berharap pemerintah segera memberi solusi karena kondisi ini sangat berdampak bagi pedagang,” kata Riza.(Tim)









