Jakarta SB – Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) mengajak pelaku pasar modal, investor, akademisi, dan generasi muda membangun patriotisme ekonomi melalui penguatan etika, integritas, dan kepercayaan publik. Ia menegaskan bahwa ketiga aspek tersebut menjadi fondasi utama kemajuan ekonomi nasional.
Ibas Soroti Pentingnya Kepercayaan di Tengah Tantangan Global
Dalam Diskusi Kebangsaan bertajuk “Membangun Patriotisme Ekonomi Melalui Etika, Integritas, dan Kepercayaan Publik: Dari Investor Menjadi Pemilik Masa Depan Indonesia” di Kompleks MPR RI, Jakarta, Kamis (4/6), Ibas menyoroti berbagai tantangan global, mulai dari persaingan geopolitik, ketegangan ekonomi antarnegara, hingga pesatnya perkembangan teknologi.
Ia menilai dunia kini lebih banyak bertarung dalam bidang modal, data, dan investasi di bandingkan kekuatan militer. Karena itu, ia menempatkan kepercayaan sebagai faktor paling krusial dalam menentukan arah investasi dan stabilitas ekonomi suatu negara.
Indonesia Miliki Modal Menjadi Kekuatan Ekonomi Dunia
Ibas menilai Indonesia memiliki fondasi yang kuat untuk menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia. Sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan anggota G20, Indonesia di dukung oleh populasi besar, bonus demografi, pasar domestik yang kuat, sumber daya alam melimpah, serta stabilitas fiskal dan moneter yang terjaga.
Menurutnya, pembangunan ekonomi harus selaras dengan tujuan bernegara sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, yakni melindungi bangsa, meningkatkan kesejahteraan, mencerdaskan kehidupan masyarakat, dan berkontribusi dalam ketertiban dunia.
Pasar Modal Cerminkan Kepercayaan terhadap Masa Depan Indonesia
Ibas menyebut pasar modal sebagai cerminan tingkat kepercayaan terhadap masa depan perekonomian Indonesia. Ia menilai pasar modal nasional terus menunjukkan daya tahan dan kemampuan beradaptasi meski menghadapi berbagai krisis.
Ia juga menegaskan bahwa indikator investasi dan peringkat kredit global mencerminkan tingkat kepercayaan dunia terhadap suatu negara. Oleh sebab itu, seluruh pemangku kepentingan harus memperkuat transparansi, akuntabilitas, dan tata kelola yang baik.
Ibas Tekankan Pentingnya Good Governance
Ibas menegaskan bahwa penerapan good governance bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Menurutnya, pemerintah, regulator, pelaku usaha, dan investor harus membangun kepercayaan melalui tata kelola yang baik, kebijakan yang konsisten, serta integritas yang kuat.
Ia menilai kepercayaan tidak dapat di bangun hanya melalui narasi, melainkan melalui tindakan nyata yang berkelanjutan.
Investor Harus Fokus pada Nilai Jangka Panjang
Dalam pidatonya, Ibas mengingatkan bahwa setiap krisis selalu menghadirkan peluang bagi pihak yang memiliki kesiapan dan perspektif jangka panjang. Ia mengajak investor memahami fundamental investasi, menghargai nilai jangka panjang, dan menjaga disiplin dalam mengambil keputusan.
Selain itu, ia mendorong investor membedakan investasi dengan spekulasi. Menurutnya, investor harus bertindak sebagai investor yang mengedepankan analisis dan kesabaran, bukan sebagai spekulan yang hanya mengejar keuntungan sesaat.
Investor Berperan sebagai Pemilik Masa Depan Bangsa
Ibas menegaskan bahwa investor memegang peran strategis dalam pembangunan nasional. Selain mencari keuntungan, investor juga berkontribusi dalam membangun masa depan bangsa melalui dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Ia menilai trader berperan menjaga likuiditas dan efisiensi pasar, sementara investor berperan mendorong pembangunan jangka panjang. Namun, keduanya harus tetap berpegang pada etika agar pasar tetap di percaya publik.
Pelaku Pasar Modal Dorong Reformasi dan Penguatan Kepercayaan
Dalam diskusi tersebut, para pelaku pasar modal, akademisi, praktisi, dan investor menilai tantangan utama pasar modal Indonesia tidak hanya berkaitan dengan pergerakan IHSG atau nilai tukar rupiah, tetapi juga tingkat kepercayaan investor.
Mereka mendorong pemerintah dan regulator memperkuat kepastian hukum, meningkatkan transparansi tata kelola, memperkuat pengawasan pasar modal, serta membangun komunikasi kebijakan yang lebih efektif.
Selain itu, mereka mengusulkan peningkatan literasi keuangan, percepatan reformasi pasar modal, dan penyederhanaan proses pendanaan seperti IPO serta right issue guna meningkatkan daya saing Indonesia dalam menarik investasi global.
Ibas Optimistis Indonesia Menjadi Kekuatan Ekonomi Besar
Menutup sambutannya, Ibas menyampaikan optimisme bahwa Indonesia mampu menjadi salah satu kekuatan ekonomi besar dunia apabila seluruh elemen bangsa menjadikan etika sebagai fondasi, integritas sebagai karakter, dan kepercayaan sebagai budaya bersama.
Menurutnya, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang kaya, tetapi bangsa yang mampu menjaga dan memperoleh kepercayaan dari masyarakat maupun dunia internasional.(*)









