Signalberita.com – Saat ini industri otomotif tanah air sedang dalam tantangan besar seiring dengan terus meningkatnya persentase campuran bahan bakar nabati dalam program Biodiesel nasional. Kendati program ini krusial demi mewujudkan kemandirian energi nasional, aspek teknis bahan bakar lokal ternyata masih menyisakan rapor merah jika di komparasikan dengan standar global, salah satunya negara Brasil yang telah sukses menerapkan Biodiesel B100.
CEO sekaligus Founder Wealthy Group, Arief Hidayat, mengimbau agar para pemilik kendaraan di Indonesia lebih mawas diri. Menurutnya, karakteristik bahan bakar diesel domestik saat ini menuntut penanganan dan perawatan mesin yang jauh lebih ekstra.
Kandungan Sulfur Tinggi: Ancaman Nyata Ruang Bakar
Perbedaan paling mencolok antara komoditas Biodiesel di Indonesia dan B100 di Brasil terletak pada pekatnya kadar belerang (sulfur). Di pasar domestik, Bio Solar tercatat masih mengantongi kadar sulfur sebesar 2.500 ppm, di susul Dexlite dengan 1.500 ppm, dan varian tertingginya, Pertamina Dex, bertengger di angka 500 ppm.
Rapor ini kalah telak dari standar regulasi Brasil yang sudah mengadopsi standar Ultra-Low Sulfur Diesel (ULSD) dengan kandungan sulfur super minim, yakni hanya berkisar antara 10 hingga 15 ppm. Menurut Arief, tingginya sulfur di Indonesia memicu penumpukan asam, jelaga (soot), serta korosi agresif yang langsung menyerang jantung ruang bakar.
Sifat Kimia FAME Sawit yang Rentan Menyumbat Filter
Bukan hanya masalah sulfur, bahan baku utama Biodiesel Indonesia yang berbasis minyak kelapa sawit (Fatty Acid Methyl Ester/FAME) juga memiliki kelemahan pada tingkat ketahanan oksidasi. Sifat kimia ini membuat bahan bakar lokal rentan mengalami polimerisasi hingga membentuk endapan lumpur (sludge) di dalam tangki maupun saluran bahan bakar.
Kondisi tersebut di perparah oleh iklim tropis Indonesia yang lembap, membuat FAME sawit mudah menyerap air. Efek domino dari akumulasi air ini adalah suburnya pertumbuhan mikroba yang siap menyumbat filter bahan bakar kendaraan Anda. Di sisi lain, Brasil memanfaatkan kombinasi minyak kedelai, lemak sapi, hingga minyak goreng bekas yang secara teknis jauh lebih stabil saat di simpan dalam waktu lama.
Efek Buruk pada Injektor, Piston, dan Angka Cetane
Dampak dari kontaminasi teknis tersebut langsung merembet pada komponen vital kendaraan. Penggunaan bahan bakar dengan karakteristik lokal kerap memicu kerak deposit masif pada komponen injektor serta endapan di atas piston.
Secara performa pembakaran, Biodiesel B100 di Brasil menghasilkan siklus ledakan yang jauh lebih bersih dan halus karena memiliki nilai Cetane Number (CN) tinggi di angka 50–55. Sementara itu, solar lokal masih bervariasi di rentang angka yang lebih rendah, yakni 48–52.
Oli Cepat Encer dan Komponen DPF Rentan Rusak
Arief menegaskan, jika pemilik kendaraan tidak melakukan mitigasi yang tepat, bersiaplah untuk menghadapi jadwal pembersihan komponen Exhaust Gas Recirculation (EGR) dan servis injektor yang jauh lebih rapat.
Untuk jangka panjang, mesin diesel modern berpotensi mengalami penurunan usia pakai pelumas akibat pengenceran oli (fuel dilution) yang dipicu tingginya kadar sulfur dan oksidasi. Selain itu, komponen penyaring emisi modern seperti Diesel Particulate Filter (DPF) di pastikan bakal tersumbat abu jelaga lebih cepat, yang jika di biarkan dapat berujung pada kerusakan fatal pada mesin dengan biaya perbaikan yang membengkak.***







