JAKARTA, SIGNALBERITA.COM — Ketegangan geopolitik di sejumlah kawasan strategis dunia meningkat dan memunculkan kembali kekhawatiran akan pecahnya konflik berskala global. Rivalitas negara-negara besar, disertai eskalasi militer di berbagai wilayah, dinilai memperbesar risiko meluasnya perang regional menjadi perang dunia.
Di Timur Tengah, langkah Amerika Serikat mengerahkan armada laut ke kawasan dekat Iran memicu spekulasi potensi bentrokan terbuka. Meski disebut sebagai langkah pencegahan, pergerakan kelompok tempur kapal induk AS dinilai meningkatkan tensi dengan Teheran. Iran sebelumnya telah menyatakan kesiapan membalas jika aset militernya diserang, termasuk dengan menyasar kepentingan AS dan Israel.
Ketegangan juga meningkat di Eropa dan kawasan Atlantik Utara. Hubungan Rusia dan negara-negara NATO memburuk seiring meningkatnya aktivitas militer di wilayah perbatasan. Penguatan sistem pertahanan di negara-negara Baltik serta pelanggaran wilayah udara dilaporkan semakin sering terjadi. Rusia pada saat yang sama terus memamerkan kemampuan militernya, termasuk pengembangan rudal hipersonik.
Di Asia Timur, Selat Taiwan menjadi salah satu titik rawan. Latihan militer China di sekitar Taiwan meningkat, sementara Amerika Serikat terus menunjukkan dukungan politik dan militer kepada Taipei. Situasi ini dinilai berpotensi menyeret negara lain di kawasan, seperti Jepang dan Australia, jika konflik terbuka terjadi.
Semenanjung Korea turut menjadi perhatian. Korea Utara melanjutkan uji coba rudal dan pengembangan senjata strategis, memperburuk hubungan dengan Korea Selatan dan meningkatkan ketidakstabilan kawasan.
Sejumlah analis menilai ancaman konflik global tidak hanya berdampak pada keamanan, tetapi juga berpotensi memicu krisis kemanusiaan, termasuk gangguan pasokan pangan dunia jika konflik bersenjata melibatkan senjata strategis.
Meski perang dunia belum menjadi kepastian, eskalasi ketegangan di berbagai kawasan dinilai menempatkan dunia pada situasi yang semakin rapuh dan sulit diprediksi.(Tim)









