Signalberita.com – Dalam rangka melakukan evaluasi terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG), Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah penghentian sementara proses pendaftaran dapur MBG di seluruh Indonesia. Kebijakan ini dilakukan sebagai bagian dari evaluasi dan penataan ulang agar distribusi layanan gizi dapat berjalan lebih efektif.
Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik S Deyang, menjelaskan bahwa keputusan moratorium pendaftaran dapur MBG diambil setelah pihaknya melihat persebaran fasilitas yang masih belum merata. Saat ini, jumlah dapur MBG yang telah beroperasi sudah mencapai lebih dari 27 ribu unit di berbagai wilayah.

Menurutnya, penghentian sementara tersebut bukan berarti Program MBG dihentikan. BGN justru menggunakan waktu ini untuk melakukan pemetaan kebutuhan di lapangan agar pembangunan dapur berikutnya lebih sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat.
“Kami akan memetakan terlebih dahulu wilayah yang masih membutuhkan tambahan dapur. Setelah penataan selesai dan masih ada kebutuhan, pendaftaran akan kembali dibuka,” ujar Nanik di Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Dapur MBG Banyak Terkonsentrasi di Perkotaan
BGN menemukan bahwa sebagian besar dapur MBG saat ini masih berada di wilayah perkotaan dan kawasan aglomerasi. Sementara sejumlah daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) masih membutuhkan peningkatan akses layanan.
Karena itu, pemerintah akan mengarahkan pengembangan dapur MBG selanjutnya ke daerah yang belum mendapatkan layanan secara maksimal. Langkah tersebut dilakukan agar manfaat program prioritas pemerintah dapat dirasakan masyarakat hingga ke pelosok negeri.
Dorong Pemerataan Akses Gizi bagi Masyarakat
Melalui evaluasi dan penataan ini, BGN berharap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis dapat semakin optimal. Penyesuaian lokasi dapur juga diharapkan mampu mencegah penumpukan fasilitas di wilayah tertentu serta mempercepat pemerataan pemenuhan gizi masyarakat.
Program MBG diharapkan tidak hanya menjadi layanan makanan bergizi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas kesehatan dan masa depan generasi Indonesia.***









