SIGNALBERITA.COM – Seorang Penyuluhan Agama Islam asal KUA Batargerbang, Bekasi, Karawang, bernama Abu Bakar Sidik (30) menerima penghargaan Lifetime Achievement pada ajang Penais (Penerangan Agama Islam) Award 2025.
Ajang ini di gelar Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kementerian Agama pada 23–26 Agustus 2025.
Penghargaan tersebut di serahkan Dirjen Bimas Islam Abu Rokhmad. Penghargaan di berikan sebagai apresiasi atas dedikasi Abu Bakar dalam mendampingi nelayan, petani garam, serta pelaku tambak ikan di wilayah pesisir Cilamaya Wetan, Karawang.
Kategori Lifetime Achievement merupakan penghargaan khusus kepada Penyuluh Agama Islam yang mengabdikan hidupnya bagi pembinaan umat. Mereka yang terpilih di nilai telah memberi dampak nyata dan berkelanjutan, sejalan dengan semangat Asta Cita Presiden dan Asta Protas Menteri Agama.
Sejak awal karier sebagai honorer, Abu Bakar bertugas di KUA Cilamaya Wetan. Dari situ, ia mulai mendampingi petani garam dan nelayan. Setelah di angkat sebagai PPPK pada 2024, ia di pindahkan ke KUA Bantargebang, namun kedekatannya dengan masyarakat pesisir tetap terjalin.
“Persoalan utama masyarakat pesisir bukan hanya ekonomi, melainkan juga spiritual dan lingkungan. Karena itu, saya mendampingi mereka dengan dakwah sekaligus pemberdayaan ekonomi agar bisa bangkit bersama,” ujarnya, Kamis (28/8/2025).
Pendampingan petani Garam dan Nelayan
Pendampingan Abu Bakar terhadap petani garam di mulai pada 2019. Padahal, usaha garam rakyat di Cilamaya Wetan telah di rintis sejak 2011. Upayanya berbuah hasil ketika pada 7 Desember 2023, kelompok tersebut di sahkan melalui SK Kepala Desa Muarabaru dengan nama Kelompok Usaha Garam Rakyat (KUGAR) “Sumber Rejeki”.
Kini, KUGAR menaungi sekitar 130 anggota aktif yang terbagi dalam 13 subkelompok. Jika di total dengan keluarga mereka, ratusan orang ikut merasakan dampak positif baik dari sisi ekonomi maupun jaminan sosial internal kelompok.
Kegiatan pembinaan di lakukan secara rutin, mulai dari penyuluhan akhir pekan, pelatihan produksi dengan teknologi geomembran dan rumah garam, hingga pendampingan kewirausahaan berbasis syariah. Abu Bakar tidak hanya menyampaikan materi agama, melainkan juga terjun langsung membantu teknis produksi dan pemasaran.
Berbagai inovasi di terapkan, antara lain penggunaan geomembran dan tunnel garam untuk mengurangi ketergantungan pada cuaca. Produk turunan juga di kembangkan, seperti garam herbal terapi, terasi higienis, dan ikan asin berkualitas. Inovasi ini meningkatkan daya saing sekaligus memberi nilai tambah di pasaran.
“Tantangan yang di hadapi tidak ringan. Fluktuasi harga, keterbatasan modal awal, serta pola pikir masyarakat yang cenderung individual menjadi hambatan . Namun, kami melakukan pendekatan spiritual dan semangat gotong royong, hingga persoalan itu perlahan dapat di atasi,” ungkapnya.
KUGAR mendapat dukungan dari pemerintah desa, Kementerian Kelautan dan Perikanan, BAZNAS, serta sejumlah dinas terkait. Kerja sama juga dijalin dengan pesantren, madrasah, dan mitra swasta untuk memperluas pemasaran produk.
Hasilnya, kata Abu Bakar, rata-rata pendapatan anggota meningkat 30–50 persen sejak bergabung. Bahkan, sebagian warga yang dulunya penerima zakat (mustahik) kini bertransformasi menjadi pemberi zakat (muzaki). Kondisi ini menunjukkan adanya peningkatan kemandirian sekaligus martabat ekonomi masyarakat pesisir.
Ia menegaskan, penghargaan yang di raihnya bukan semata untuk dirinya, melainkan untuk seluruh anggota KUGAR. Ke depan, Abu Bakar berharap kelompok ini dapat berkembang menjadi koperasi besar sekaligus pusat edukasi wisata garam dan terasi, dengan pasar yang menjangkau tingkat nasional hingga internasional.
“Bagi saya, pemberdayaan ekonomi umat adalah bagian dari ketahanan pangan nasional. Garam dan hasil tambak adalah kebutuhan pokok. Jika masyarakat pesisir di berdayakan, mereka bukan hanya mencukupi kebutuhan sendiri, tetapi juga menopang kemandirian bangsa,” tandas Abu Bakar.***









