Jakarta — Neraca perdagangan jasa Indonesia kembali mencatatkan defisit pada kuartal II-2026. Berdasarkan laporan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) Bank Indonesia (BI), defisit neraca jasa mencapai US$5,9 miliar, membesar di bandingkan kuartal I-2026 yang sebesar US$4,4 miliar.
Kondisi tersebut turut mendorong pelebaran defisit transaksi berjalan (CAD) Indonesia menjadi US$12,5 miliar atau setara 3,3% terhadap PDB.
BI menyebut pelebaran defisit neraca jasa terutama di pengaruhi oleh menurunnya surplus jasa perjalanan serta meningkatnya defisit pada jasa bisnis lainnya.
Salah satu komponen utama yang mencatatkan defisit adalah jasa transportasi. Pada kuartal II-2026, defisit jasa transportasi mencapai US$2,5 miliar, meningkat dari US$2,41 miliar pada kuartal sebelumnya.
Defisit tersebut terutama berasal dari jasa freight atau pengangkutan yang meningkat seiring dengan bertambahnya aktivitas impor. Defisit jasa barang tercatat membesar menjadi US$2,29 miliar dari sebelumnya US$1,81 miliar.
Sementara itu, defisit jasa penumpang justru menyusut menjadi US$81 juta dari US$483 juta pada kuartal I-2026.
Warga RI Makin Sedikit ke Luar Negeri
Di sektor jasa perjalanan, Indonesia masih mencatatkan surplus sebesar US$606 juta. Namun, angka tersebut menurun dari surplus US$1,09 miliar pada kuartal I-2026.
Dari sisi penerimaan, jasa perjalanan dari wisatawan mancanegara (wisman) meningkat menjadi US$4,4 miliar dari sebelumnya US$4 miliar. Kenaikan tersebut sejalan dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisman ke Indonesia, dari 3,4 juta menjadi 4 juta orang.
Kunjungan ke luar negeri Turun
Menariknya, jumlah warga negara Indonesia yang bepergian ke luar negeri justru mengalami penurunan. Jumlah wisatawan nasional (wisnas) turun dari sekitar 2,5 juta menjadi 2 juta orang pada kuartal II-2026.
Meski jumlahnya menurun, pembayaran jasa perjalanan wisnas meningkat menjadi US$3,8 miliar dari US$2,9 miliar pada kuartal sebelumnya.
BI menjelaskan, kondisi tersebut di pengaruhi oleh periode pelaksanaan ibadah haji pada kuartal II-2026 yang meningkatkan rata-rata pengeluaran wisnas selama berada di luar negeri.
Secara keseluruhan, jumlah pelawat yang masuk ke Indonesia meningkat menjadi sekitar 4,01 juta orang dari 3,43 juta orang. Sebaliknya, jumlah pelawat Indonesia ke luar negeri turun menjadi 1,96 juta orang dari sebelumnya 2,5 juta orang.
Mayoritas Sektor Jasa Masih Defisit
Selain transportasi dan jasa bisnis lainnya, sejumlah sektor perdagangan jasa juga mencatatkan defisit pada kuartal II-2026
Sektor jasa pemeliharaan dan perbaikan mengalami defisit US$231 juta, meningkat dari US$123 juta. Jasa konstruksi mengalami defisit US$38 juta, sedangkan jasa asuransi dan pensiun mencatatkan defisit US$542 juta.
Jasa keuangan juga mengalami defisit US$384 juta, sementara biaya penggunaan kekayaan intelektual defisit US$591 juta.
Kemudian, jasa telekomunikasi, komputer, dan informasi mencatatkan defisit US$474 juta. Sementara jasa bisnis lainnya mengalami defisit sekitar US$2 miliar.
Meski demikian, masih terdapat sejumlah sektor yang mencatatkan surplus. Jasa manufaktur mencatat surplus US$196 juta, meski turun dari US$208 juta pada kuartal sebelumnya.
Jasa pemerintahan juga masih mencatatkan surplus sebesar US$42 juta, meningkat dari US$33 juta pada kuartal I-2026.
Dengan kondisi tersebut, neraca perdagangan jasa Indonesia masih menjadi salah satu sumber tekanan terhadap neraca transaksi berjalan, meskipun jumlah warga Indonesia yang bepergian ke luar negeri mengalami penurunan.(*l



















