JAKARTA, SIGNALBERITA.COM – Perusahaan publik pemegang aset Solana terbesar, Forward Industries, di laporkan mengalami kerugian belum terealisasi hingga sekitar Rp17,3 triliun setelah harga Solana (SOL) anjlok tajam dalam beberapa bulan terakhir.
Kerugian besar tersebut muncul karena perusahaan membeli SOL dalam jumlah besar saat harga masih berada di level tinggi. Namun, kondisi pasar kripto yang melemah membuat nilai aset mereka turun drastis.
Forward di ketahui memiliki sekitar 6,98 juta token SOL dengan harga beli rata-rata mencapai US$232 per token. Sementara pada pertengahan Mei 2026, harga Solana berada di kisaran US$91.
Dengan kondisi tersebut, nilai kepemilikan SOL milik perusahaan kini hanya sekitar US$635 juta, jauh di bawah total biaya pembelian yang mencapai sekitar US$1,62 miliar.
Harga Solana Turun Tajam
Penurunan harga SOL menjadi faktor utama membengkaknya kerugian perusahaan. Forward sebelumnya membangun cadangan Solana besar setelah memperoleh pendanaan sekitar US$1,65 miliar melalui skema private investment in public equity (PIPE).
Dana itu di gunakan untuk membeli SOL dalam jumlah besar ketika pasar kripto masih berada dalam tren bullish.
Namun, setelah pasar kripto mengalami tekanan, harga Solana ikut terkoreksi lebih dari 50 persen di banding rata-rata harga beli perusahaan.
Walaupun kerugian tersebut masih bersifat paper loss atau belum di realisasikan karena aset belum di jual, dampaknya sudah terlihat dalam laporan keuangan perusahaan.
Forward melaporkan kerugian kuartal pertama 2026 sebesar US$585,6 juta. Dari jumlah itu, sekitar US$560,2 juta berasal dari penurunan nilai aset digital yang di miliki perusahaan.
Perusahaan Lain Juga Terdampak
Forward bukan satu-satunya perusahaan yang terkena dampak penurunan harga Solana. Sejumlah perusahaan publik lain yang juga menyimpan SOL dalam jumlah besar di sebut mengalami tekanan serupa.
Sharps Technology di laporkan memegang sekitar 2,07 juta SOL, sedangkan Upexi memiliki lebih dari 2,17 juta SOL.
Jika di gabungkan, total kerugian belum terealisasi perusahaan-perusahaan pemegang Solana di sebut telah melampaui US$1,5 miliar.
Staking Belum Mampu Menutup Kerugian
Meski hampir seluruh kepemilikan SOL milik Forward tetap di-staking, imbal hasil tahunan yang di peroleh di nilai belum cukup untuk menutup penurunan harga aset.
Program staking Solana di ketahui hanya menghasilkan yield sekitar 6,73 persen per tahun, jauh lebih kecil di banding penurunan harga SOL dari US$232 menjadi sekitar US$91.
Karena itu, pergerakan harga Solana ke depan akan menjadi faktor penting yang menentukan apakah tekanan terhadap perusahaan-perusahaan treasury kripto dapat mereda atau justru semakin besar.
Risiko Strategi Treasury Kripto
Kasus ini menjadi contoh bagaimana strategi penyimpanan aset kripto dalam jumlah besar dapat berubah menjadi tekanan finansial ketika pasar bergerak berlawanan arah.
Meski kerugian yang di alami masih berupa paper loss, nilai kerugian yang mencapai belasan triliun rupiah menunjukkan tingginya risiko investasi aset kripto yang memiliki volatilitas tinggi.
Jika harga Solana gagal pulih dalam waktu dekat, tekanan terhadap perusahaan-perusahaan yang menjadikan aset kripto sebagai cadangan perusahaan di perkirakan masih akan berlanjut.***










