JAKARTA, SIGNALBERITA.COM – Kondisi Nilai tukar rupiah kembali turun pada perdagangan awal pekan, Senin 11 Mei 2026. Pelemahan mata uang Garuda terjadi seiring meningkatnya ketidakpastian global akibat memanasnya hubungan Amerika Serikat dan Iran yang kembali gagal mencapai kesepakatan perdamaian.
Pada perdagangan pasar spot, rupiah di buka melemah tipis sekitar 0,06 persen ke level Rp17.383 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah juga terjadi bersamaan dengan pelemahan mayoritas mata uang Asia lainnya.
Kondisi geopolitik yang belum stabil membuat harga minyak dunia tetap tinggi. Minyak Brent masih bertahan di kisaran USD104 per barel, sehingga memicu kekhawatiran pasar terhadap inflasi dan perlambatan ekonomi global.
Harga Minyak dan Geopolitik Jadi Sorotan Pasar
Selain rupiah, sejumlah mata uang Asia seperti won Korea Selatan, peso Filipina, baht Thailand, yen Jepang, ringgit Malaysia, hingga dolar Singapura turut mengalami tekanan terhadap dolar AS.
Namun di tengah pelemahan mayoritas mata uang kawasan, yuan China justru mampu bertahan relatif stabil. Mata uang Negeri Tirai Bambu tersebut bahkan dinilai masih memiliki ruang penguatan dalam jangka menengah.
Lembaga investasi global Goldman Sachs menyebut yuan saat ini masih berada dalam posisi undervalued lebih dari 20 persen terhadap dolar AS. Kondisi tersebut di nilai membuka peluang penguatan yuan dalam satu tahun ke depan.
Pelaku pasar saat ini juga menyoroti sejumlah agenda ekonomi penting global, termasuk perkembangan hubungan dagang Amerika Serikat dan China, data inflasi AS, serta dinamika geopolitik Timur Tengah yang terus memengaruhi pergerakan pasar keuangan dunia.
Tekanan eksternal yang masih tinggi membuat pergerakan rupiah di perkirakan akan tetap fluktuatif dalam beberapa waktu ke depan, terutama jika harga energi global terus meningkat dan sentimen pasar belum stabil.***









