Di tepi hutan yang rindang, hiduplah seekor gajah muda bernama Gumo. Ia besar, kuat, dan cerdas—tapi sayangnya, ia sangat pemalu. Gumo punya satu masalah yang membuatnya selalu berjalan perlahan dan menyendiri: telapak kakinya sangat sensitif, dan setiap batu kecil membuatnya kesakitan.
“Aduh! Batu lagi!” keluh Gumo setiap kali melangkah.
Teman-temannya berlari, menari, dan bermain air di sungai, tapi Gumo hanya duduk di bawah pohon. Ia iri, tapi tak pernah mau bilang kenapa.
Sampai suatu hari, seekor kancil kecil bernama Lilo mendekat dan bertanya,
“Gumo, kenapa kamu tak pernah ikut bermain?”
Gumo menunduk. “Kakiku… terlalu lembut. Aku takut terluka.”
Lilo tersenyum. “Tunggu di sini.” Ia lari ke dalam hutan, dan kembali dengan daun-daun lebar, kulit kayu, dan tali rotan. Dengan cekatan, Lilo membalut kaki Gumo dan mengikatkan semuanya seperti sepatu buatan tangan.
“Cobalah!” katanya penuh semangat.
Gumo ragu, tapi ia bangkit. Melangkah satu… dua… dan—tidak sakit! Bahkan terasa nyaman. Gumo mulai berlari. Mula-mula pelan, lalu semakin cepat. Teman-temannya bersorak melihatnya ikut bermain untuk pertama kalinya.
Sejak hari itu, Gumo tak lagi takut melangkah. Ia bahkan mulai membuat sepatu sendiri dari bahan-bahan hutan. Dan bukan hanya untuk dirinya—ia membuatkan untuk kura-kura yang jalannya lambat, untuk kelinci yang sering terpeleset, bahkan untuk burung kecil yang kakinya terluka.
Sepatu-sepatu Gumo menjadi terkenal. Tapi yang paling penting: ia menemukan kepercayaan dirinya sendiri, berkat keberanian untuk mencoba dan bantuan dari teman sejati.***









