JAKARTA, Signalberita.com – Bursa aset kripto BitMEX mengumumkan akan menghentikan seluruh operasionalnya mulai September 2026. Keputusan tersebut mengakhiri perjalanan lebih dari satu dekade platform yang di kenal sebagai salah satu pelopor perdagangan derivatif kripto melalui produk perpetual swap.
Dalam pengumuman resminya, BitMEX menyatakan layanan akan di tutup sepenuhnya pada 23 September 2026 pukul 04.00 UTC atau sekitar 11.00 WIB. Manajemen juga mengimbau seluruh pengguna untuk segera menutup posisi perdagangan dan menarik aset yang masih tersimpan di platform.
Penghentian Layanan Di lakukan Bertahap
Menjelang penutupan, BitMEX telah menghentikan pendaftaran akun baru dan mulai mengurangi aktivitas perdagangan secara bertahap. Mulai 26 Agustus 2026, pengguna tidak lagi dapat membuka posisi baru.
Selanjutnya, perusahaan akan menutup seluruh kontrak terbuka yang masih tersisa hingga seluruh layanan resmi di hentikan pada September.
BitMEX juga mengingatkan pengguna agar segera menarik dana. Apabila masih terdapat aset yang tersimpan setelah batas waktu penutupan, akun berpotensi di kenakan biaya pemeliharaan sesuai ketentuan yang berlaku. Selain itu, proses penarikan menjelang penutupan di perkirakan dapat mengalami keterlambatan akibat tingginya aktivitas jaringan blockchain.
Pernah Mendominasi Pasar Derivatif Kripto
Di dirikan pada 2014 oleh Arthur Hayes, Ben Delo, dan Samuel Reed, BitMEX di kenal sebagai pelopor kontrak perpetual swap, yakni instrumen derivatif tanpa tanggal kedaluwarsa yang kemudian banyak di adopsi oleh bursa kripto lainnya.
Pada masa puncaknya, BitMEX menjadi salah satu pusat likuiditas terbesar di pasar derivatif aset digital. Platform ini sempat membukukan volume perdagangan tahunan lebih dari US$1 triliun dan menguasai sebagian besar pangsa pasar derivatif kripto global.
Namun, posisinya mulai tergerus seiring meningkatnya persaingan dari berbagai bursa kripto lain yang menawarkan lebih banyak pilihan aset, likuiditas yang lebih besar, serta fitur perdagangan yang semakin beragam. Di sisi lain, berkembangnya platform derivatif berbasis desentralisasi turut mengubah lanskap industri.
Tekanan Regulasi
Selain menghadapi persaingan, BitMEX juga sempat tersandung persoalan regulasi. Pada 2020, perusahaan menghadapi tuntutan dari otoritas Amerika Serikat terkait dugaan pelanggaran aturan anti pencucian uang (AML).
Kasus tersebut mendorong sejumlah pendiri, termasuk Arthur Hayes, mundur dari jajaran pimpinan perusahaan. Menjelang keputusan penghentian operasional, BitMEX juga mengalami perubahan manajemen dengan keluarnya beberapa eksekutif senior.
Penutupan BitMEX menjadi salah satu momen penting dalam industri aset digital, mengingat platform tersebut pernah berperan besar dalam perkembangan perdagangan derivatif kripto secara global.(*)











