SIGNALBERITA.COM – Tren teknologi kembali menghadirkan inovasi baru yang menarik perhatian generasi muda. Kali ini, cyberdeck menjadi perbincangan di berbagai platform media sosial berkat desainnya yang unik dan konsep Do It Yourself (DIY) atau di rakit sendiri sesuai kebutuhan pengguna.
Popularitas cyberdeck meningkat sepanjang 2026 setelah banyak kreator teknologi membagikan proses perakitan perangkat tersebut melalui TikTok, YouTube, Reddit, hingga forum komunitas maker. Berbeda dengan laptop konvensional yang di produksi secara massal, cyberdeck menawarkan kebebasan bagi penggunanya untuk menentukan desain, spesifikasi, hingga fungsi perangkat.
Apa Itu Cyberdeck?
Cyberdeck merupakan komputer portabel rakitan yang di buat menggunakan berbagai komponen elektronik sesuai kebutuhan. Perangkat ini umumnya memanfaatkan komputer mini seperti Raspberry Pi, Orange Pi, LattePanda, atau mini PC berbasis x86 sebagai pusat pemrosesan.
Pengguna kemudian melengkapi perangkat tersebut dengan layar LCD mini, keyboard mekanik, baterai isi ulang, touchpad atau trackball, modul WiFi, penyimpanan SSD atau microSD, speaker, hingga berbagai sensor tambahan.
Seluruh komponen di rakit dalam casing yang di buat sendiri menggunakan printer 3D, aluminium, akrilik, kayu, bahkan koper bekas. Karena di rancang secara mandiri, setiap cyberdeck memiliki bentuk dan karakter yang berbeda.
Berawal dari Dunia Fiksi Ilmiah
Istilah cyberdeck pertama kali muncul dalam novel fiksi ilmiah Neuromancer karya William Gibson pada era 1980-an. Saat itu, cyberdeck di gambarkan sebagai komputer portabel canggih yang mampu menghubungkan penggunanya ke dunia maya.
Seiring berkembangnya teknologi komputer mini, printer 3D, dan perangkat open source, konsep tersebut kini berhasil di wujudkan oleh komunitas maker di berbagai negara.
Alasan Cyberdeck Digemari Gen Z
Cyberdeck semakin populer karena menawarkan kebebasan berkreasi. Pengguna dapat menentukan sendiri bentuk perangkat, memilih komponen, hingga menyesuaikan fungsi sesuai kebutuhan.
Selain itu, banyak pengguna memanfaatkan komponen bekas sehingga cyberdeck mendukung konsep reduce, reuse, recycle yang sejalan dengan gaya hidup ramah lingkungan.
Biaya pembuatannya juga relatif fleksibel. Sebagian proyek dapat di selesaikan dengan anggaran ratusan ribu rupiah, sementara perangkat dengan spesifikasi lebih tinggi membutuhkan biaya hingga jutaan rupiah.
Memiliki Banyak Fungsi
Cyberdeck tidak hanya berfungsi sebagai komputer portabel, tetapi juga dapat di manfaatkan untuk berbagai kebutuhan, antara lain:
Menjalankan emulator game retro.
Belajar pemrograman seperti Linux, Python, dan JavaScript.
Menjadi server pribadi untuk penyimpanan data atau web server.
Digunakan sebagai laboratorium portabel untuk pembelajaran keamanan siber dalam lingkungan yang sah dan terkendali.
Menyimpan dokumen, peta, e-book, hingga media offline untuk digunakan di lokasi tanpa akses internet.
Viral Berkat Media Sosial
Video proses perakitan cyberdeck yang di unggah para kreator di TikTok dan YouTube berhasil menarik jutaan penonton. Tayangan tersebut memperlihatkan proses mencetak casing dengan printer 3D, memasang komponen, menyolder rangkaian elektronik, hingga menginstal sistem operasi Linux.
Fenomena itu mendorong semakin banyak anak muda mempelajari elektronika, pemrograman, dan rekayasa perangkat keras. Komunitas cyberdeck pun terus berkembang melalui Reddit, Discord, GitHub, dan berbagai forum maker internasional.
Belum Menggantikan Laptop
Meski mampu menjalankan berbagai pekerjaan ringan seperti mengetik, menjelajah internet, coding, hingga mengelola server, cyberdeck belum dapat menggantikan laptop berperforma tinggi yang di gunakan untuk gaming atau pekerjaan profesional.
Bagi komunitas maker, tujuan utama cyberdeck bukan menggantikan laptop, melainkan menghadirkan komputer yang benar-benar sesuai kebutuhan dan mencerminkan kreativitas penggunanya.
Dengan semakin murahnya harga komputer mini, berkembangnya printer 3D, serta meluasnya ekosistem perangkat open source, cyberdeck di perkirakan akan terus berkembang sebagai bagian dari budaya teknologi modern dan proyek DIY di masa mendatang.(*)










