JAKARTA-Hubungan kerja sama antara Indonesia dan China memasuki babak baru dengan penekanan pada pengembangan sumber daya manusia, penguatan kapasitas teknologi, serta perluasan pendidikan vokasi. Langkah ini menjadi bagian dari upaya kedua negara memperdalam kemitraan strategis yang telah terjalin selama puluhan tahun.
Dalam sebuah forum yang mempertemukan para alumni program kerja sama teknis Indonesia–China di Jakarta, Kamis, pemerintah menilai kolaborasi tersebut telah berkontribusi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia di berbagai sektor. Program-program yang berjalan selama ini mencakup pelatihan di bidang pembangunan infrastruktur, pertanian, hingga pengembangan kawasan transmigrasi.
Staf Ahli Menteri Sekretaris Negara Bidang Komunikasi Politik dan Kehumasan, Sari Harjanti, menyampaikan bahwa pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh peserta pelatihan diharapkan dapat diterapkan untuk mendukung pembangunan nasional. Menurutnya, ratusan peserta dari Indonesia telah mengikuti berbagai program penguatan kapasitas yang difasilitasi melalui kerja sama kedua negara.
Ke depan, pemerintah tidak hanya mempertahankan model pelatihan jangka pendek, tetapi juga membuka peluang pengembangan program pendidikan formal, peningkatan keterampilan vokasi, serta kerja sama antarnegara berkembang melalui skema South-South Cooperation.
Sari menuturkan bahwa transformasi digital dan penguasaan teknologi menjadi salah satu bidang yang mendapat perhatian khusus. Pemerintah ingin mempercepat adopsi pengetahuan dan teknologi yang dapat mendukung modernisasi berbagai sektor pembangunan di Indonesia.
Melalui Biro Kerja Sama Teknik Luar Negeri Kementerian Sekretariat Negara, berbagai peluang kerja sama internasional akan terus dijembatani dan disinergikan dengan kebutuhan kementerian maupun lembaga di dalam negeri.
Sementara itu, Duta Besar China untuk Indonesia, Wang Lutong, menekankan bahwa hubungan kedua negara tidak semata-mata bertumpu pada perdagangan dan investasi. Menurutnya, pembangunan hubungan antarmasyarakat menjadi fondasi penting yang menentukan keberlanjutan kemitraan bilateral.
Wang mengungkapkan bahwa ribuan warga Indonesia dari berbagai profesi telah mengikuti program pelatihan dan pertukaran yang diselenggarakan China dalam dua dekade terakhir. Peserta berasal dari beragam kalangan, mulai dari aparatur pemerintah, tenaga pendidik, hingga pemimpin komunitas di daerah.
Sebagai tindak lanjut kerja sama tersebut, China tengah menyiapkan sejumlah proyek yang berorientasi langsung pada kebutuhan masyarakat. Di antaranya pembangunan fasilitas pendidikan vokasi di Papua serta pengembangan kawasan pertanian padi berbasis teknologi modern guna meningkatkan produktivitas pangan.
Menurut Wang, pendekatan yang mengutamakan manfaat nyata bagi masyarakat menjadi arah utama kerja sama Indonesia–China pada masa mendatang, sehingga hasil kemitraan dapat dirasakan secara lebih luas dan berkelanjutan oleh kedua negara.(*)










