Jakarta, Signalberita.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (12/06/2026) di prediksi masih menghadapi tekanan. Karena Rupiah berpotensi bergerak naik turun dengan risiko melemah di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.100 per dolar AS.
Pada perdagangan sebelumnya, Kamis (11/6/2026), rupiah tercatat melemah sekitar 0,11 persen ke level Rp17.985 per dolar AS. Pelemahan tersebut sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang ikut tertekan terhadap dolar AS.
Beberapa mata uang regional seperti yuan China, won Korea Selatan, dolar Singapura, dolar Taiwan, dan rupee India juga mengalami depresiasi terhadap dolar AS. Sementara itu, peso Filipina masih mampu bergerak menguat tipis.
Tekanan Global Membayangi Rupiah
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah terjadi akibat penguatan dolar AS yang dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Selain faktor eksternal, sentimen negatif dari pasar saham domestik serta aliran dana asing keluar (outflow) turut memberikan tekanan terhadap mata uang Garuda.
Dari sisi ekonomi dalam negeri, penurunan penjualan ritel sebesar 3,7 persen juga menjadi salah satu faktor yang membebani sentimen pasar.
Investor Menanti Data Ekonomi AS
Pelaku pasar kini memperhatikan sejumlah data ekonomi Amerika Serikat, termasuk perkembangan inflasi yang dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga.
Menurut Lukman, sentimen global masih akan bergerak dinamis mengikuti perkembangan konflik di Timur Tengah dan kondisi pasar keuangan internasional.
“Rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.100 pada Jumat (12/6/2026),” ujarnya.
Pergerakan rupiah ke depan masih akan dipengaruhi oleh kekuatan dolar AS, kebijakan bank sentral, arus modal asing, serta kondisi ekonomi global.(*)









