SIGNALBERITA.COM – Di sebuah sudut desa tradisional di Bac Ninh, waktu seolah berjalan lebih lambat. Aroma khas pasta beras ketan dan kertas dó yang di lapisi pernis memenuhi udara, menghadirkan nuansa autentik yang telah bertahan ratusan tahun. Di sinilah seni lukis rakyat Dong Ho terus hidup—di turunkan dari generasi ke generasi tanpa kehilangan jiwanya.
Desa Dong Ho, yang terletak di wilayah Thuan Thanh, di kenal sebagai pusat kerajinan lukisan tradisional Vietnam berusia lebih dari lima abad. Bagi para pengunjung, tempat ini bukan sekadar destinasi wisata, melainkan ruang untuk menyaksikan langsung bagaimana tradisi di wariskan melalui tangan-tangan terampil para perajin.
Salah satu sosok yang setia menjaga warisan itu adalah Nguyen Huu Qua. Di meja kerjanya, ia dengan sabar melapisi warna-warna alami pada blok cetak kayu, lalu memindahkannya ke kertas berlapis, menciptakan tekstur khas yang menjadi identitas lukisan Dong Ho. Setiap warna di aplikasikan secara manual, menghadirkan nuansa hidup yang tidak bisa di gantikan oleh teknik modern.
Motif dalam lukisan Dong Ho bukan sekadar hiasan, melainkan cerminan kehidupan dan filosofi masyarakat. Karya legendaris seperti Pernikahan Tikus menggambarkan sindiran sosial tentang relasi kekuasaan, sementara Babi Yin-Yang melambangkan kesuburan dan harapan akan kemakmuran. Ada pula lukisan tentang seorang cendekiawan yang pulang kampung dengan penuh kehormatan, mengingatkan nilai moral tentang pentingnya menghargai asal-usul.
Tema lain menghadirkan keindahan perempuan Vietnam dalam seri Wanita Cantik, serta simbol keberuntungan seperti ayam jantan yang berdiri gagah di antara bunga mawar. Bahkan, gambar sederhana seperti bayi yang memeluk ayam jantan pun sarat makna—tentang harapan akan kehidupan yang sehat dan sejahtera.
Proses Waktu Lukisan
Proses pembuatan satu lukisan bisa memakan waktu antara satu hingga empat hari, tergantung tingkat kerumitan. Namun bagi para perajin, tantangan terbesar bukanlah teknis, melainkan menjaga “roh” dalam setiap karya. Seperti di ungkapkan Nguyen Huu Qua, tidak semua orang mampu menangkap esensi di balik setiap goresan.
Sebagai generasi ke-10 dalam keluarga pengrajin, ia tetap setia mempertahankan metode tradisional. Baginya, setiap lukisan bukan hanya produk seni, tetapi juga medium untuk menyimpan ingatan kolektif desa dan menyampaikan nilai budaya kepada generasi mendatang.
Di tengah arus modernisasi, lukisan Dong Ho tetap bertahan—bukan sebagai peninggalan masa lalu semata, tetapi sebagai jembatan yang menghubungkan tradisi dengan masa depan.***









