JAKARTA, Signalberita.com – Suku bunga atau Rate kembali di naikan oleh Bank Indonesia (BI). Kali ini sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen. Kebijakan tersebut di ambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juni 2026 sebagai langkah menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Kenaikan suku bunga tersebut langsung mendapat respons dari pasar modal. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan dan di tutup melemah, sementara sejumlah saham unggulan, termasuk kelompok Badan Usaha Milik Negara (BUMN), mengalami penurunan.
Gubernur Bank Indonesia, , menjelaskan bahwa penyesuaian BI-Rate di lakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran pemerintah.
Kebijakan moneter ini juga bertujuan menghadapi berbagai tantangan ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian, termasuk tekanan pasar keuangan internasional.
IHSG Melemah, Investor Mulai Kurangi Risiko
Setelah pengumuman kenaikan suku bunga, tekanan jual meningkat di pasar saham Indonesia. IHSG tercatat terkoreksi sekitar 1,36 persen.
Pelemahan terjadi hampir di berbagai sektor karena investor melakukan aksi ambil untung serta mengurangi kepemilikan aset berisiko.
Salah satu kelompok saham yang terdampak cukup besar adalah saham BUMN. Indeks IDXBUMN20 mengalami penurunan hingga 3,35 persen.
Selain itu, beberapa indeks lainnya juga ikut melemah, seperti indeks SMinfra18 yang turun 3,68 persen, IDXG30 terkoreksi 3,13 persen, dan IDXQ30 turun 3,07 persen.
Sektor Keuangan Ikut Tertekan
Kenaikan suku bunga turut memberikan tekanan terhadap sektor keuangan. Indeks IDXFINANCE tercatat melemah 1,96 persen, sementara indeks saham unggulan LQ45 turun 1,93 persen.
Pelaku pasar memperkirakan kenaikan suku bunga dapat berdampak terhadap biaya dana serta pertumbuhan kredit perbankan.
Namun, tidak seluruh sektor mengalami pelemahan. Indeks bahan baku atau IDXBASIC justru mencatat penguatan sebesar 1,48 persen.
Beberapa sektor seperti teknologi, energi, dan barang konsumsi primer juga dinilai masih memiliki ketahanan di tengah kondisi pasar yang bergejolak.
Investor Diminta Cermati Fundamental Emiten
Analis pasar menilai dampak kenaikan suku bunga akan berbeda pada setiap perusahaan. Emiten dengan tingkat utang tinggi berpotensi menghadapi kenaikan beban bunga.
Sementara itu, perusahaan berbasis ekspor dan komoditas dinilai memiliki peluang mendapat keuntungan apabila nilai tukar rupiah tetap stabil dan permintaan global membaik.
Pergerakan IHSG ke depan masih akan dipengaruhi oleh arah kebijakan suku bunga, aliran modal asing, serta perkembangan ekonomi dunia.
Investor di imbau tetap memperhatikan fundamental perusahaan dan memilih sektor yang memiliki daya tahan lebih kuat terhadap perubahan kebijakan moneter.(Tim)











