JAKARTA, Signalberita.com – Harga XRP di pasar Aset Kripto kembali menjadi perhatian. Ini setelah munculnya analisis yang membandingkan kinerja aset kripto tersebut dengan saham teknologi raksasa NVIDIA.
Sejumlah analis menilai, jika XRP mampu menembus garis resistance jangka panjang terhadap NVIDIA, kondisi itu berpotensi menjadi pemicu kenaikan harga yang lebih besar.
XRP Masih Kesulitan Mengungguli NVIDIA
Meski terlihat menjanjikan, catatan historis menunjukkan kondisi yang belum sepenuhnya mendukung. Dalam beberapa tahun terakhir, XRP justru lebih sering tertinggal di bandingkan NVIDIA.
Beberapa kali penembusan level penting sebelumnya juga tidak berakhir dengan reli berkelanjutan. Sebaliknya, breakout tersebut justru sering menjadi tanda harga mulai kehilangan momentum dan berujung pada koreksi.
Perbandingan XRP dengan NVIDIA di lakukan melalui grafik kekuatan relatif, yaitu membandingkan harga XRP terhadap saham NVIDIA. Ketika grafik meningkat, artinya XRP lebih unggul, sedangkan penurunan menunjukkan XRP masih kalah performa.
Breakout XRP Justru Sering Berakhir Koreksi
Sejak 2021, pola pergerakan XRP terhadap NVIDIA menunjukkan tekanan yang cukup kuat. Beberapa breakout yang terjadi justru menjadi titik pelemahan baru bagi XRP.
Berdasarkan pengamatan pada data mingguan, setiap breakout sejak 2021 selalu diikuti penurunan harga. Dalam periode 12 minggu setelah breakout, XRP tercatat mengalami koreksi rata-rata sekitar 39 persen.
Hal ini menunjukkan bahwa breakout belum selalu menjadi sinyal awal tren kenaikan baru, tetapi bisa menjadi tanda bahwa pasar mulai memasuki fase jenuh beli.
Perbandingan dengan Bitcoin dan Aset Lain
Analisis juga menguji pola XRP terhadap beberapa aset besar seperti Bitcoin, S&P 500, Nasdaq, dan emas.
Hasilnya, pola pelemahan jangka panjang XRP terlihat lebih jelas saat dibandingkan dengan NVIDIA dan Bitcoin. Pada perbandingan dengan Bitcoin, breakout XRP masih sempat memberikan kenaikan kecil.
Namun, ketika di bandingkan dengan NVIDIA, breakout justru berakhir dengan tekanan jual yang lebih besar.
Aktivitas Investor Jadi Faktor Penentu
Salah satu penyebab kegagalan breakout sebelumnya diduga berasal dari aktivitas investor di jaringan XRP.
Data on-chain menunjukkan adanya peningkatan aliran XRP menuju bursa saat harga mendekati puncak pada 2025. Pergerakan token masuk ke exchange sering dianggap sebagai indikasi meningkatnya potensi tekanan jual.
Selain itu, indikator posisi bersih holder XRP juga menunjukkan pelemahan. Sebagian pemegang jangka panjang terlihat mengurangi kepemilikan ketika harga mengalami koreksi.
XRP Membutuhkan Dukungan Kuat untuk Reli
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kenaikan XRP belum sepenuhnya di dukung oleh permintaan baru yang kuat.
Agar tren bullish lebih meyakinkan, XRP membutuhkan beberapa faktor pendukung, seperti akumulasi investor yang meningkat, berkurangnya jumlah token di bursa, serta kepercayaan holder jangka panjang yang terus bertahan.
Saat ini, XRP masih membutuhkan kenaikan signifikan terhadap NVIDIA untuk kembali mendekati area resistance utama. Karena itu, peluang kenaikan tetap terbuka, tetapi sinyal breakout yang kuat masih perlu di konfirmasi.
Kesimpulan: Hubungan XRP dan NVIDIA Belum Cukup Jadi Sinyal Reli
Sejarah menunjukkan hanya periode awal perkembangan XRP yang berhasil menghasilkan kenaikan besar setelah breakout. Sementara kondisi pasar saat ini sudah berbeda karena skala NVIDIA dan industri kripto jauh lebih besar.
Hubungan antara XRP dan NVIDIA memang menarik perhatian investor, tetapi belum menjadi bukti kuat bahwa XRP siap memasuki fase reli besar berikutnya.(*)











