SIGNALBERITA.COM – Pasar sepeda motor listrik di Vietnam menunjukkan akselerasi signifikan menjelang penerapan kebijakan pembatasan kendaraan berbahan bakar bensin di kota-kota besar. Tahun 2026 di perkirakan menjadi titik balik penting dalam transisi menuju transportasi ramah lingkungan.
Kenaikan harga bahan bakar global, termasuk dampak konflik di Timur Tengah, mendorong perubahan preferensi konsumen. Di saat bersamaan, kebijakan pemerintah seperti pembatasan motor berbahan bakar bensin di Hanoi mulai Juli 2026 memperkuat tren tersebut.
Data terbaru menunjukkan Vietnam kini menjadi pasar sepeda motor listrik terbesar ketiga di dunia, setelah China dan India. Penjualan di proyeksikan mencapai hingga 1,3 juta unit pada 2026, melonjak drastis di banding tahun sebelumnya.
Sejumlah produsen mencatat pertumbuhan pesat. VinFast memimpin pasar dengan peningkatan penjualan signifikan, di ikuti oleh Yadea, Pega, dan Di bao. Pendatang baru seperti Dat Bike dan Selex Motors juga mulai mencuri perhatian.
Selain faktor kebijakan, efisiensi biaya menjadi daya tarik utama. Harga motor listrik kini semakin kompetitif di bandingkan motor bensin, sementara biaya operasionalnya jauh lebih rendah.
Namun, pertumbuhan pesat ini masih di hadapkan pada sejumlah tantangan, terutama keterbatasan infrastruktur pengisian daya dan fasilitas parkir. Di beberapa kawasan, termasuk apartemen, penggunaan motor listrik bahkan masih di batasi karena alasan keselamatan.
Para ahli menilai, keberlanjutan pertumbuhan pasar sangat bergantung pada percepatan pembangunan infrastruktur serta dukungan kebijakan tambahan, seperti insentif pajak dan penyediaan fasilitas publik untuk kendaraan listrik.
Dengan kombinasi dorongan regulasi, tren konsumen, dan efisiensi biaya, sepeda motor listrik di prediksi akan menjadi tulang punggung transportasi masa depan di Vietnam, sekaligus berkontribusi dalam menekan emisi dan meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan.***









