SIGNALBERITA.COM — Setahun setelah Vietnam dan Amerika Serikat meningkatkan hubungan diplomatik menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif, sebuah dokumen internal militer Vietnam yang bocor menunjukkan sikap berbeda dari narasi resmi pemerintah. Dokumen tersebut mengungkap bahwa militer Vietnam tetap memandang Amerika Serikat sebagai potensi ancaman keamanan.
Laporan internal berjudul The 2nd U.S. Invasion Plan yang di susun Kementerian Pertahanan Vietnam pada Agustus 2024 menyebut Amerika Serikat sebagai kekuatan agresif yang berpotensi melancarkan berbagai bentuk konflik, termasuk perang non-konvensional. Dokumen itu menilai risiko perang terbuka masih rendah, namun menekankan kewaspadaan terhadap kemungkinan intervensi dengan dalih tertentu.
Dalam dokumen tersebut, militer Vietnam juga menyoroti potensi ancaman “revolusi warna”, yakni perubahan rezim melalui tekanan sosial dan politik yang di dorong pengaruh asing. Ancaman ini di nilai dapat mengganggu stabilitas pemerintahan Partai Komunis Vietnam.
Peneliti The 88 Project, Ben Swanton, yang mengkaji dokumen itu menyebut pandangan tersebut bukan sikap segelintir elite militer. Menurut dia, kekhawatiran terhadap campur tangan asing merupakan pandangan yang relatif luas di berbagai kementerian pemerintah Vietnam.
Meski demikian, Hanoi tetap melanjutkan kerja sama strategis dengan Washington. Sejak 2023, kedua negara sepakat memperkuat kemitraan di bidang politik, ekonomi, dan keamanan kawasan Indo-Pasifik. Pemerintah Amerika Serikat menyatakan kemitraan itu bertujuan menjaga stabilitas dan kemakmuran regional.
Pengamat menilai isi dokumen tersebut mencerminkan ketegangan internal di Vietnam antara kepentingan menjaga keamanan rezim dan kebutuhan membuka kerja sama internasional. Warisan sejarah konflik dan pengalaman intervensi asing di nilai masih memengaruhi cara pandang militer Vietnam terhadap Amerika Serikat.***









