SB.- Bara api mulai menyala di permukaan bola yang terbuat dari batok kelapa kering. Puluhan pasang mata tertuju ke lapangan sederhana di halaman Masjid Safinatussalam, Desa Cibiru Hilir, Kabupaten Bandung. Anak-anak berlari tanpa alas kaki mengejar bola api, sementara sorak-sorai warga memecah malam, menyambut datangnya 1 Muharram 1448 Hijriah dengan cara yang khas.
Di antara para peserta, Rasyid (11) tampak antusias menceritakan pengalaman pertamanya mengikuti sepak bola api pada Senin (15/6/2026) malam.
“Awalnya susah dan bikin stres, tapi tahun depan pasti ikut lagi,” ujarnya sambil tersenyum.
Sebelum pertandingan di mulai, para pemain terlebih dahulu membasahi kaki mereka di ember berisi air yang di sediakan di tepi lapangan. Bola yang di gunakan bukan bola biasa, melainkan batok kelapa kering yang di bakar hingga menyala.
Pertandingan di bagi menjadi tiga kategori usia: anak-anak, remaja, dan dewasa. Para pemain mengenakan sarung dan bermain tanpa alas kaki. Delapan hingga sepuluh orang saling berebut menguasai bola api di tengah sorakan penonton.
“Mainnya tidak terlalu susah, aman, dan tidak sakit. Kecuali kalau salah menendang, baru terasa sakit,” kata Rasyid.
Tradisi yang Menyatukan Warga
Selain sepak bola api, warga juga di suguhi atraksi bambu gila yang menambah semarak perayaan Tahun Baru Islam di halaman Masjid Safinatussalam.
Ketua Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Safinatussalam, Abdurrahman Elfikri, menjelaskan bahwa kegiatan ini telah menjadi agenda tahunan yang terus di pertahankan oleh masyarakat.
Pada awalnya, peringatan Tahun Baru Islam hanya di lakukan secara sederhana di lingkungan masjid. Namun, sejak 2016, warga mulai menghadirkan berbagai permainan dan kesenian tradisional untuk memeriahkan acara.
Sambutan masyarakat yang positif membuat tradisi tersebut terus berkembang.
“Awalnya hanya warga sekitar masjid. Sekarang sudah melibatkan empat RW. Anak-anak semakin banyak yang ikut, dan orang tua juga mendukung. Semuanya dilakukan secara gotong royong,” ujar Elfikri.
Selain sepak bola api dan bambu gila, anak-anak yang tergabung dalam Ikatan Remaja Masjid turut menampilkan Rampak Bedug, memperkaya suasana kebersamaan malam itu.
Menurut Elfikri, tantangan terbesar dalam penyelenggaraan acara justru terletak pada pencarian bahan baku bola api, yakni kelapa kering.
“Paling sulit mencari kelapa yang benar-benar kering. Kami sampai mencari ke Limbangan, Garut, hingga Jatinangor,” katanya.
Meski demikian, kendala tersebut tidak pernah mengurangi semangat warga untuk menjaga tradisi yang telah berlangsung hampir satu dekade.
Ketua DKM Safinatussalam, Arif Yulianto, menuturkan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah mempererat kebersamaan sekaligus mendekatkan anak-anak dengan masjid.
“Kami ingin peringatan Tahun Baru Islam di penuhi keberkahan dan rahmat Allah. Anak-anak juga di harapkan semakin akrab dengan masjid dan terbiasa melaksanakan salat lima waktu,” ujarnya.
Seluruh rangkaian acara terselenggara berkat gotong royong warga tanpa dukungan anggaran khusus. Keterlibatan masyarakat, terutama anak-anak, menjadi penanda bahwa tradisi ini bukan sekadar hiburan tahunan.
Menjelang larut malam, bara bola api perlahan padam dan warga mulai meninggalkan halaman masjid. Namun, bagi masyarakat Cibiru Hilir, perayaan 1 Muharram memiliki makna lebih dari sekadar mempertahankan tradisi.
Melalui sepak bola api dan bambu gila, mereka merawat nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, serta menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap masjid. Semangat itu diharapkan terus menyala dari tahun ke tahun, sebagaimana bara kecil yang menerangi lapangan malam itu.(*)









