Jakarta Signalberita.com– PT Telkom Indonesia terus memperkuat transformasi bisnis melalui restrukturisasi perusahaan dan optimalisasi aset guna mempertegas fokus pada sektor telekomunikasi dan layanan di gital.
Direktur Utama Dian Siswarini menyampaikan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari strategi TLKM 30 yang di arahkan pada penataan portofolio bisnis non-inti atau streamlining.
Upaya ini di lakukan untuk meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mendorong kontribusi bisnis yang lebih maksimal.(*)
Salah satu implementasinya di lakukan melalui proses divestasi AdMedika beserta anak usahanya, TelkoMedika. Saat ini, proses tersebut telah memasuki tahap Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA) dan ditargetkan mencapai divestasi penuh pada akhir semester pertama 2026.
Selain divestasi, Telkom juga menjalankan strategi unlocking value melalui pemisahan sebagian bisnis dan aset Wholesale Fiber Connectivity kepada InfraNexia. Langkah awal proses fiber carve-out itu di tandai dengan penandatanganan Conditional Spin-off Agreement (CSA) pada Desember 2025.
Menurut Dian, strategi tersebut bertujuan meningkatkan pemanfaatan aset perusahaan dan memaksimalkan Return on Assets (ROA), sekaligus memperluas kontribusi Telkom dalam mendukung konektivitas nasional.
Transformasi yang di jalankan juga mencakup perubahan model operasi dari operating holding menjadi strategic holding melalui penyederhanaan struktur organisasi (delayering). Ke depan, Telkom akan memfokuskan bisnis pada empat segmen Operating Company (OpCo), yaitu B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, dan International.
Melalui langkah tersebut, Telkom berharap dapat memperkuat fundamental perusahaan, menyelaraskan lini bisnis, serta meningkatkan efektivitas tata kelola perusahaan secara berkelanjutan.(*)









